Massa GMDS Sei. Lunang Mengutuk Bupati Asahan

Editor : Fauza Afifah

Asahan, (JMG)- Setelah tak mendapat tanggapan dari seorang pun pejabat di Dinas PMD Asahan, Masyarakat Desa Sei Lunang Kec. Sei Kepayang Timur yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Desa Sei Lunang (GMDS) kemudian kembali berbondong-bondong melanjutkan aksi unjuk rasa lanjutan ke kantor Bupati Asahan.

Aksi unjuk rasa yang dikawal ketat oleh pihak kepolisian resort Asahan pada Rabu (02/11/22) di depan kantor Bupati Asahan berlangsung damai dan kondusif. Beberapa kali orator aksi yang dikordinir oleh Doni Syahputra tersebut terdengar menggelegar dan mengajukan beberapa tuntutan terkait keputusan yang telah dikeluarkan oleh Tim 7 Panitia Sengketa Pilkades yang dibentuk Dinas Pemdes Asahan.

Beberapa tuntutan dalam aksi yang digelar oleh GMDS diantaranya adalah, meminta penjelasan dari Kadis PMD Asahan terkait keputusan pemenangan sengketa pilkades Sei Lunang yang sarat dengan muatan politis dan diduga telah melakukan konspirasi busuk. Massa GMDS juga meminta agar Bupati Asahan H. Surya, Bsc dapat menelaah dan membatalkan rekomendasi dan keputusan yang telah dikeluarkan oleh Tim 7.

Bupati Asahan juga diminta agar segera mempertanggung jawabkan sikap Panitia Sengketa Pilkades atau Tim 7 yang diduga telah melakukan penyalahgunaan wewenang serta serta tidak cermat dalam mengambil keputusan.

Massa GMDS juga menduga jika Tim 7 disaat melakukan penyelesaian sengketa pilkades telah dipengaruhi oleh pihak tertentu, seperti oknum Ketua Organisasi Kepala Desa dan oknum Kabid PMD sehingga hal tersebut telah melukai dan mencederai rasa keadilan dengan memutuskan pihak pemenang menjadi pihak yang dikalahkan.

Doni Syahputra, kordinator aksi unjuk rasa GMDS di depan kantor Bupati Asahan dalam orasinya mengatakan bahwa masyarakat Desa Sei. Lunang sudah tidak lagi percaya kepada Bupati Asahan yang dinilai tidak peka dan kurang peduli terhadap perkembangan hasil sengketa Pilkades.

“Mana Bupati ? disaat masyarakatnya sedang didzolimi, dirinya selalu tak berada ditempat. Turunlah Bupati, atau hengkang saja dari sini. Kami sudah muak dengan jawaban-jawaban politis yang kalian sampaikan. Atau, bila perlu, kami akan meminta untuk bergabung ke dalam wilayah administrasi Kota Tanjungbalai”, tegasnya.

Setelah hampir satu jam aksi yang digelar oleh GMDS di depan gerbang kantor Bupati Asahan, akhirnya massa diizinkan untuk masuk ke halaman kantor Bupati dan kembali melakukan orasi dengan pengawalan ketat dari pihak kepolisian.
Dihadapan ratusan peserta aksi unjuk rasa, Doni Syahputra mengatakan bahwa dirinya bersama seluruh peserta aksi akan terus melakukan unjuk rasa, jika tuntutan mereka tidak dipenuhi oleh sang Bupati.

Orator aksi unjuk rasa juga meminta agar Bupati segera membatalkan surat keputusan No.110.7-Pemasdes Tahun 2022 tentang penyelesaian perkara perselisihan hasil pilkades Sei. Lunang Kec. Sei. Kepayang Timur Tahun 2022 antara Sahlan melawan Panitia Pilkades Sei Lunang.

Setelah beberapa lama melakukan orasi, akhirnya massa GMDS diterima oleh Kepala Dinas PMD Kab. Asahan Suherman Siregar, bersama Kaban Kesbangpollinmas M. Syarif Sirait, SH. di pintu masuk kantor Bupati Asahan.

Aksi Massa Sei. Lunang di Kantor Dinas PMD dan Bupati Asahan

Dalam keterangannya dihadapan ratusan massa GMDS, Suherman Siregar mengatakan bahwa dirinya dan pihak PMD tidak memiliki andil dalam membuat keputusan hasil sengketa Pilkades, sebab Tim Pembantu Penyelesaian Sengketa Pilkades merupakan Tim yang independen yang dibentuk oleh Bupati Asahan.

‘Saya tak punya wewenang dalam pengambilan keputusan maupun rekomendasi pemenang sengketa pilkades. Semua merupakan kerja Tim 7 yang telah ditunjuk untuk menangani semua perkara sengketa. Sengketa tersebut juga sudah selesai dengan beberapa tahapan hingga hasil putusan. Kami gak berwenang melakukan intervensi terkait hal tersebut”, jelasnya.

Jawaban Kadis PMD tersebut pun sontak mendapat sorakan dari ratusan massa aksi unjuk rasa yang tidak percaya dengan pernyataan Kadis PMD. Menurut massa, jawaban yang diberikan oleh Kadis Pemdes tersebut sangat tidak masuk akal dan dianggap hanya lips service semata.

Massa aksi pun berteriak “Kami tak percaya dengan Bapak, kami butuh kepastian, kapan kami dapat bertemu dengan Bupati ? Sudah muak kami dengan jawaban kalian. Tadi kamu dimana ? Saat kami ke kantor Pemdes ?”, teriak massa.
Demikian berita yang di lansir dari Metro7news.com.
(Tajuk).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.