ADAKAN ORGEN TUNGGAL DIDALAM LAPAS SIJUNJUNG, WBP DIMINTAI UANG

Editor : De Ola

Sijunjung, (JMG) – Bak menyimpan bangkai dalam lapas, akhirnya berbau juga keluar. Bagaikan menyimpan kebusukan di Lapas Sijunjung, akhirnya tercium juga oleh wartawan. Hal inilah yang terjadi di Lapas Kelas II B Sijunjung Provinsi Sumatera Barat.

Mencuatnya bermacam dugaan Pungutan Liar (Pungli) di Lapas kelas IIB Sijunjung itu setelah adanya nyanyian dari beberapa warga binaan di Lapas tersebut. Dugaan Pungli dimulai dari biaya keluar warga binaan tengah malam dan kembali lagi saat subuh ke lapas sebelum masa vonis selesai.

Selain itu, pemberian fasilitas bebas mengginakan handphone bagi beberapa warga binaan Pemasyarakatan (WBP) yang diberikan Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) juga menjadi permainan dilapas Sijunjung. Beberapa WBP dibiarkan menggunakan handphone dengan ketentuan yang dibuat Randhi Antara SE selaku KPLP.

Tak hanya itu, acara hiburan orgen tunggal sering diadakan dilapas yang menampung 300 lebih WBP tersebut. Di tahun 2024 ini sudah dua kali orgen tunggal diadakan dilapas Sijunjung. Terakhir pada awal Mei 2024 lalu dimana setiap WBP diwajibkan untuk membayar juga Rp. 30.000 per WBP.

Menurut keterangan salah seorang mantan warga binaan di Lapas Kelas II B Sijunjung yang meminta namanya untuk dirahasiakan , dirinya mengalami tekanan keuangan dari oknum petugas saat berada di lapas saat itu.

“Banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk meringankan hari-hari saya saat menjalani kehidupan di lapas Sijunjung. Semua pelanggaran yang dilakukan didalam lapas saat itu, selalu berimbas kepada uang. Bila tidak mau bayar, kita masuk Seltrap”, ujarnya.

Terkait beberapa informasi tersebut, JMG mencoba mengkonfirmasi kepada RhandyAltasa SE, selaku KPLP di Lapas kelas IIB Sijunjung. ” Itu tidak ada dan tidak benar. Masa iya, saya baru 6 bulan bertugas disini” jawabnya.

Terkait kepemilikan handphone dalam lembaga Pemasyarakatan Rhandy juga menjelaskan tidak ada warga binaan bebas memegang handphone, semuanya diperlakukan dengan sama.

“Soal adanya orang dekat saya, itu juga tak benar. Semua warga binaan di Lapas Kelas II B Sijunjung ini harus saya dekati. Maklum pak, tugas saya sebagai KPLP”, katanya.

Terkait dugaan pungutan untuk acara hiburan orgen tunggal, Rhandy mengakuinya. ” Memang ada pungutan kepada warga binaan untuk acara orgen tunggal. Akan tetapi tidak saya yang memungut. Itu semua atas persetujuan warga binaan. Mereka butuh hiburan juga”, kata Rhandy melalui telepon selulernya Kamis (23/5/2024).

Lain halnya dengan jawaban Kalapas kelas II B Sijunjung, Ahmad Junaidi A.Md. IP. SH. MM saat dikonfirmasi JMG mengungkapkan bahwa tidak ada dan itu tidak benar. “Soal kedekatan Rhandy dengan para warga binaan, Saya sebagai pemimpin disini juga wajib menjelaskan. Dia sebagai KPLP, memang harus dekat kepada semua warga binaan yang ada disini. Terkait acara hiburan untuk peringati hari Bhakti Pemasyarakatan kemaren, tidak ada memungut uang kepada warga binaan yang ada disini”, ujar kalapas.

Ketika JMG menyebutkan pengakuan Rhandy adanya pungutan walaupun tidak Rhandy yang memungut uang kepada warga binaan, Junaidi yang menjabat sebagai Kalapas kelas II B Sijunjung tetap bersikukuh membantahnya. (Heri)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.